Kamis, 26 Maret 2009

Never waste time inventing things that people would not want to buy

Ketika Thomas Edison muda masih bekerja di sebuah perusahaan telegraf, dia selalu mencari masalah yang bisa dipecahkan oleh sebuah penemuan baru. Penemuan tersebut kemudian akan dijualnya. Logikanya sederhana saja: Orang-orang pasti bersedia membayar untuk menyelesaikan masalah mereka. Yang dia butuhkan adalah mencari masalah yang dialami banyak orang, dan pihak yang mengalami masalah tersebut mampu membayar untuk solusi yang akan dihasilkan Edison tersebut. Persyaratan tersebut sangat masuk akal untuk menjamin keberhasilan sebuah inovasi.

Suatu petang, ketika berkunjung ke kantor dewan perwakilan negara bagian Massachusetts, dia mengamati betapa tidak efisiennya proses perhitungan suara para anggota dewan. Bahkan hanya untuk menghitung kertas suara saja membutuhkan waktu berjam-jam. Mata Edison yang sudah terlatih segera saja melihat kesempatan emas. Dia yakin dengan keahlian dan pengetahuannya, dia mampu menghasilkan sebuah alat penghitung suara elektronik yang akan memangkas waktu perhitungan suara dari berjam-jam menjadi hanya beberapa menit saja. Alat ini terdiri sebuah switch yang memiliki dua posisi: ya dan tidak. Cara pemakaiannya sangat sederhana. Bila Anda setuju dengan sebuah rancangan undang-undang atau pendapat, pindah saja switch-nya ke posisi ya, dan ke posisi tidak untuk sebaliknya. Hasil dari semua alat tersebut kemudian akan ditabulasi melalui sebuah proses electrochemical.

Anda setuju dengan Edison? Mengapa tidak? Masalah ini pasti dihadapi juga oleh lembaga-lembaga perwakilan lainnya yang pasti menggunakan perhitungan suara. Mereka juga pasti mampu membayar solusi baru yang akan dihasilkan Edison tersebut. Solusi tersebut dipastikan akan menghasilkan manfaat berkali-kali lipat dalam hal efisiensi dibanding proses yang dilakukan saat ini. Selain itu, solusi ini tidak merubah kebiasaan penggunanya secara drastis. Tidak banyak pembelajaran ulang yang harus dilakukan. Kelihatannya hampir tidak ada cela dalam solusi ini.

Edison berpikiran demikian. Edison ternyata salah!

Ada satu hal yang kelewatan…

Ketika Edison menyelesaikan mesin tersebut dan mencoba menawarkannya, dia ditolak mentah-mentah. Ternyata inefisiensi pada proses pengumpulan suara tersebut justru dibutuhkan karena selama waktu tersebut lobi-lobi dan proses negosiasi terjadi. Kadang upaya negosiasi tersebut berbuah pemindahan suara. Kelompok minoritas juga memiliki waktu untuk mempengaruhi hasil akhir bila mereka cukup lihai memanfaatkan waktu tersebut. Penemuan Edison yang memangkas waktu tersebut akan menghancurkan seluruh proses vital tersebut.

Di situlah letak kesalahan Edison (dan kebanyakan inovator lainnya). Dia tidak menghabiskan waktu untuk mendalami kebutuhan calon konsumennya terlebih dahulu. Yang dilihatnya adalah masalah secara fungsional, dengan melupakan aspek-aspek lainnya. Edison lupa bertanya. Edison tidak berusaha bertanya apakah ada pihak-pihak yang merasa diuntungkan dengan keadaan sekarang? Apa kepentingan mereka dalam proses ini? Bagaimana penemuan ini mempengaruhi semua orang-orang terkait, baik secara positif atau negatif? Apakah manfaat positif yang ditawarkan solusi baru lebih besar dibanding dampak negatifnya?

Penemuan atau solusi inovatif apa pun seharusnya bukan dimulai dari pencetus ide atau dari laboratorium riset perusahaan. Inovasi yang memiliki peluang keberhasilan terbesar justru dimulai dari mendalami kebutuhan konsumen dan pihak-pihak terkait lainnya (yang sering disebut stakeholders). Dari sanalah seharusnya titik mula inovasi berasal.

Edison yang mengalami kegagalan ini lalu menulis demikian, “Never waste time inventing things that people would not want to buy.” Sebuah kalimat bijaksana yang kebenarannya akan kekal.

source : http://www.itpin.com/blog

Minggu, 15 Maret 2009

Negara yang Kesejahteraannya tidak merata

Kemaren Minggu...aku di sms oleh seorang teman dari bandung untuk memasarkan produk pupuk ke daerah gubug.Awalnya Aku tidak begitu berminat karena terus terang aku belum mengenal daerah tersebut,dan hari itu hari minggu...Slah stu dari hari liburku sudah hilang karena mengerjakan tugas..huft,,,
Sore hari pukul 5 sore,akhirnya akupun berangkat bersama kekasih tercinta ovy kyo (love u hun) dan 2 orang temanku,kamipun meluncur menuju daerah gubug...pada saat perjalanan kami melewati plamongan,,,dan saya cukup kaget ternyata plamongan mempunyai sebuah mall yang cukup besar setelah beribu-ribu tahun tak ada mall,,kami terus lurus dan sampailah di mranggen,,lalu ovy berkata pada saya "Mas,ntar klo pulang kmaleman beli Mc D y?"
lalu akupun mengiyakan karena kasiahan ...hehehe
Kami terus lagi lalu membaca plang suatu toko,dan betapa kagetnya aku setelah mengetahui ternyata kami sudah sampai demak..jalannya njeglong sana-sini (untung tadi gak jadi bawa mobil) jalanpun sempit,dan sering ada truk atu bis yang nyalip sembarangan...perjalananpun dilanjutkan dan sangat membosankan karena jalan yang dilalu lurus terus,,,,akupun lega setelah melihat teman saya berbelok,tetapi aku sedikitr penasaran karena di jalan tersebut terdapat sebuah gapura yang bertuliskan grobogan,What?it is true? lalu perjalananpun semakin parah karena jaln yang dilaluipun semakin rusak..setelah 15 menit perjalanan dari tugu tadi,akhirnya kami sampai di desa tegowangu,tepatnya rumah bapak teguh,di sana aku miris melihat betapa rusaknya jalan dan rumah-rumah yang masi terbuat dari kayu...di sana kami disambut dengan baik,,lalu kamipun meminta izin untuk solat di langgar,,perjalanan lumayan jauh,dan saya melihat lingkungan sekitar,ternyata jarak antara satu rumah dengan rumah laen cukup jauh,karena dibatasi oleh subuah sawah...pada saat kami di langgar,saya kira sebuah rumah penduduk,karena bentuknya yang kecil dan alasnyapun dari kayu.selesai solat,kami berniat untuk kembali ke rumah pak teguh,tapi apa daya,hujan pun mengguyur dengan derasnya..kami berteduh sebentar dan kembali ke rumah pak teguh..sampai di rumahnya....